
Di usianya yang masih 21 tahun, Inna Shevchenko terbilang sedang ranum-ranumnya. Dara Ukraina itu pun tak segan mengumbar dadanya demi mengejar tujuan yang ia anggap mulia: memprotes Euro 2012 karena dianggap akan menyuburkan bisnis prostitusi di negara itu.
Senin lalu, Shevchenko-tak ada kaitannya dengan pemain Andriy Shevchenko-melakukan aksi protes dengan membuka baju dan kutang. Ia lantas merangsek merebut trofi Henri Delaunay, yang akan diperebutkan oleh 16 negara peserta Euro 2012, saat dipamerkan di Dnipropetrovsk, Ukraina. Usahanya gagal karena ia keburu dihalang-halangi petugas.
Protes telanjang dada ala Shevchenko itu merupakan yang kedua kali dalam rentang dua pekan. Sebelumnya, Yulia Kovpachyk melakukannya di Independence Square di pusat kota Kiev, dan lebih berhasil.

Mengenakan celana jins pendek, topi hitam, dan kaus merah, wanita berusia 23 tahun ini »terselip” di antara ratusan pelancong yang ingin berpose bareng trofi Henri Delaunay. Tak seorang pun menduga ketika wanita berambut pirang ini mendadak memelorotkan kausnya hingga bagian atas tubuhnya terbuka. Di bagian perut, dengan tinta hitam tebal, tertulis kalimat "F**K EURO 2012".

Ia sempat menyambar trofi Euro, mengempaskannya ke lantai, sebelum petugas keamanan menghalaunya ke luar. Akibatnya, trofi setinggi 60 sentimeter dengan berat 8 kilogram itu rusak ringan.
Yulia kemudian diamankan petugas. Ia mengakui dirinya adalah aktivis Femen, kelompok hak asasi perempuan di Ukraina yang selama ini getol menentang hajatan Euro 2012. Pihak keamanan memberinya sanksi berupa penahanan selama 15 hari dan denda US$ 100. Namun juru bicara Femen, Anna Hutsol, memastikan pihaknya akan melakukan perlawanan. "Tentu saja kami tidak akan membayar denda itu," katanya.
Kelompok Femen memang memiliki pandangan unik tentang hajatan Euro 2012. Ketika pemerintah setempat menilai perhelatan ini akan jadi sarana paling hebat untuk promosi pariwisata, para aktivis Femen justru melihat kemungkinan lain: Euro akan membuat prostitusi melonjak dan menjadikan Ukraina sebagai tujuan wisata seks di Eropa.
"Euro 2012 tidak akan membantu pembangunan di Ukraina. Satu-satunya yang akan berkembang di sini hanya industri seks," kata aktivis Femen, Sasha Shevchenko. Aktivis berusia 24 tahun ini melanjutkan, "Euro 2012 hanya akan membuat Ukraina menjadi tempat prostitusi terbesar di Eropa."
Anna Hutsol mengaku telah menyiapkan aksi boikot Euro 2012 sejak dua tahun lalu. Tak kurang dari 40 aktivis--kesemuanya wanita muda--telah merapatkan barisan. Mereka menolak hajatan Euro dengan menggelar serangkaian unjuk rasa, semuanya dilakukan secara topless alias tanpa baju.

"Kami berencana melakukan apa yang kami bisa untuk mengganggu dan menggagalkan perhelatan ini," kata Anna. Aksi boikot tanpa baju ini rupanya cukup merepotkan para petinggi negara-negara Eropa. Dua hari setelah penyerangan trofi Euro yang dilakukan Yulia Kovpachyk, para menteri luar negeri Uni Eropa berkumpul di Brussel, Belgia, untuk membahas penentangan dari kelompok Femen.
Protes para aktivis Femen ini, selain menarik perhatian dunia, melahirkan tanda tanya di masyarakat Ukraina: dengan memamerkan kedua dada secara vulgar, bukankah mereka justru menentang misi antiprostitusi yang sedang mereka usung.

Beranda


0 komentar:
Posting Komentar